Ku selipkan penggal demi penggal kata teruntuk kau pemilik rindu
“Daun yang jatuh pun punya takdir sendiri untuk jatuh” satu kata yang membuat aku yakin setiap hal
yang aku lakukan adalah suatu takdir indah yang dirancang oleh sang pemilik
setiap jiwa, pemilik yang berhak untuk menghadirkan atau mengambil setiap jiwa
termasuk kamu dan kita. Iya kita , sebelumnya aku tidak pernah punya sedikitpun
mimpi untuk mengukir indahnya setiap hari bersama seseorang yang bisa
dikatakan kekasih.
Oh tuhan nikmat-Mu yang terus ku ingkari yaitu memiliki kamu
adalah suatu anugrah, iya anugrah indahku. Selalu banyak pujian ku utarakan
padamu sang pemilik rindu, apa itu yang membuat kau semana-mena terhadap hati
yang sangat merindukanmu? aku tahu semua salahku, aku terlalu yakin kau
penyempurna segala kekurangan yang ku miliki dan aku terlalu cepat untuk
membuka pintu hatiku terlalu lebar untukmu dan mengizinkan kamu untuk masuk
terlalu dalam.
Membuat kamu tak ada sedikitpun usaha untuk mengusahakan
aku. Sungguh setiap wantia selalu punya hati serapuh kaca, meski tampak luar
aku adalah baja, tapi tetap aku tetap menjadi kodratku , yaitu wanita. Wahai
sang pemilik rindu, apa aku harus berlari menjauhimu agar kamu tahu dan
menghargai sebuah kata kehilangan ? menghargai sang pengagummu ? iya aku
terlalu kagum terhadap engkau wahai pemilik rindu.
Tidak , sungguh aku sangat takut kehilangn kamu wahai
pemilik rindu, aku terlalu jatuh sangat dalam pada pelukanmu, titik nyamanku
tertinggal pada bahu kokoh mu . tapi apa aku akan sama berharganya dengan
wanitamu sebelum aku yang kamu kejar mati-matian untuk melihat mata indah
mereka untuk hanya tersenyum padamu, satu hal yang sangat aku sesali sampai
dengan detik ini , aku terlalu mudah jatuh cinta pada engkau wahai pemilik
rindu, aku Cuma takut aku tak seberapa berharga karena aku tak sempat berlari
saat kau mengejar.
Setiap hal yang teruntuk aku lakukan untuk engkau yang
tampak seperti berlebihan sedikit membuat kau terusik ? maaf, aku terlalu
exptresif terhadap rasa, aku tak pandai menjadi pendusta, pendusta hati, kau
terlalu tampak seperti harta ku jaga dan sangat berharga, Wahai pemilik rindu.
Post By Sita Mukhrowiyati








0 komentar:
Posting Komentar