Sabtu, 30 Januari 2016

Kau Pemilik Rindu

Ku selipkan penggal demi penggal kata teruntuk kau pemilik rindu
 
“Daun yang jatuh pun punya takdir sendiri untuk jatuh”  satu kata yang membuat aku yakin setiap hal yang aku lakukan adalah suatu takdir indah yang dirancang oleh sang pemilik setiap jiwa, pemilik yang berhak untuk menghadirkan atau mengambil setiap jiwa termasuk kamu dan kita. Iya kita , sebelumnya aku tidak pernah punya sedikitpun mimpi untuk mengukir indahnya setiap hari bersama seseorang yang bisa dikatakan kekasih.

 
Oh tuhan nikmat-Mu yang terus ku ingkari yaitu memiliki kamu adalah suatu anugrah, iya anugrah indahku. Selalu banyak pujian ku utarakan padamu sang pemilik rindu, apa itu yang membuat kau semana-mena terhadap hati yang sangat merindukanmu? aku tahu semua salahku, aku terlalu yakin kau penyempurna segala kekurangan yang ku miliki dan aku terlalu cepat untuk membuka pintu hatiku terlalu lebar untukmu dan mengizinkan kamu untuk masuk terlalu dalam.
 
 
Membuat kamu tak ada sedikitpun usaha untuk mengusahakan aku. Sungguh setiap wantia selalu punya hati serapuh kaca, meski tampak luar aku adalah baja, tapi tetap aku tetap menjadi kodratku , yaitu wanita. Wahai sang pemilik rindu, apa aku harus berlari menjauhimu agar kamu tahu dan menghargai sebuah kata kehilangan ? menghargai sang pengagummu ? iya aku terlalu kagum terhadap engkau wahai pemilik rindu.

Tidak , sungguh aku sangat takut kehilangn kamu wahai pemilik rindu, aku terlalu jatuh sangat dalam pada pelukanmu, titik nyamanku tertinggal pada bahu kokoh mu . tapi apa aku akan sama berharganya dengan wanitamu sebelum aku yang kamu kejar mati-matian untuk melihat mata indah mereka untuk hanya tersenyum padamu, satu hal yang sangat aku sesali sampai dengan detik ini , aku terlalu mudah jatuh cinta pada engkau wahai pemilik rindu, aku Cuma takut aku tak seberapa berharga karena aku tak sempat berlari saat kau mengejar.
 
Setiap hal yang teruntuk aku lakukan untuk engkau yang tampak seperti berlebihan sedikit membuat kau terusik ? maaf, aku terlalu exptresif terhadap rasa, aku tak pandai menjadi pendusta, pendusta hati, kau terlalu tampak seperti harta ku jaga dan sangat berharga, Wahai pemilik rindu.


0 komentar:

Posting Komentar