| sunset |
Sore itu, senja menyapa bumi
dengan ramahnya . Menimbulkan pancaran orange dan semu merah diatas kombinasi
birunya langit dan putihnya gumpalan sedang
sang awan. Terlihat juga wara-wiri pesawat berpenumpang cukup menambah
keindahan suasana itu.
Akan keindahannya memaksa saya
untuk lebih fokus lagi melihat alam sang Pencipta. Semakin dalam semakin hilang
pula cahaya indahnya. Semburat orange yang tadinya sangat indah seakan memudar
bergantikan serbit-serbit gelap malam. Memahami itu saya berfikir siang saja
rela ditinggal matahari yang digantikan oleh kegelapan malam yang sunyi. Kenapa
saya harus tidak terima kenyataan,come on ...
“Kamu kenapa”, tanya salah
seorang temen lama saya sembari memandang apa yang saya pandang. Saya yang
tidak cukup kaget akan kedatangannya langsung mencari tempat untuk bersandar di
salah satu pohon. “tak apa”, jawab saya ketus seolah gak mau membahas itu lagi.
“gak mungkin kamu panggil aku
kalo gak ada masalah, mau cerita apa aku pulang nih?”, mencoba meninggalkan dan
beranjak ke motornya. “iya saya ada masalah”, jawab saya. Seolah memotong dia
menawarkan segelas kopi , dan kembali mencoba mendengarkan masalahku.
“kenapa yah? Saya paling bodoh
menghadapi hubungan, tak habis pikir dia selalu menganggap saya masalah buat
dia, bikin resah dia padahal saya Cuma khawatirin dia,saya sayang sama dia,apa
saya ga pantas bahagia?apa saya tidak berhak bahagian dia?”, ungkap saya
membuka obrolan. “terus kamu harus marah dengan sikap dia?”, dengan sedikit
ketawa. “sudahlah, dunia ini fana apa yang kamu miliki sekarang belum tentu
besok kamu memilikinya begitulah hidup tak terkecuali soal percintaan”,
menambahkan perkataanya.
“sekarang cobalah relakan dia...
bukan berhenti mencintainya .tapi kamu harus banyak belajar menerima kalo cinta
tak harus memilikinya”,imbuhnya. “mana bisa secepat itu saya relain dia, kita
bahkan dikampus sekelas dan itu menambah sulit berhenti memikirkannya, yang ada
saya makin sakit hati liat tingkah dia dan disisi lain saya masih ngarep banget
bisa bersamanya kembali”,pangkas saya.
“memang susah jika kita ketemu
tiap hari tapi kamu coba kasih jarak dengan dia dan bukan juga berarti menjauh
dari dia, soal kamu ngarep sama dia mending untuk sekarang kalian kayak gini
aja deh, fokusin kuliah toh jika memang dia pengin kembali pasti dia bakal cari
kamu, buatlah dia bangga dengan sikap dewasa kamu mencoba merelakan dia. Kamu
bisa!!!! “, sambil menepuk pundak saya mencoba meringankan semua masalah yang
saya hadapi dengan tangan kiri meraih kopi yang telah mendingin.
Sorepun makin larut mengundang
adzan yang segera berkumandang, kamipun bergegas mengahiri pembicaraan itu. Hal
yang saya tangkep “ cinta memang tak harus memiliki, merelakan dia bersama yang
lain memanglah sulit tapi berusahalah tunjukin kalo kamu bisa dewasa ngadepin
masalah kayak gini”.
Yang terindah bukan berarti yang
terbaik, tapi yang terbaik selalu jadi yang terindah. To you : dibalik diamku
sekarang, saya masih mengharap bisa bersama lagi denganmu. Tapi apapun demi
bahagiamu, saya bakal turutin meski itu harus melepasmu. Sekian,








